Selasa, 8 September 2009 -- Keberadaan SD - SMPN 3 satu atap Sayung yang merupakan gabungan SDN Tugu 2 dan SMPN 3 Sayung disambut antusias warga sekitar. Sekolah terpadu tersebut dirintis sejak tahun ajaran 2007/2008. Kepala SD-SMPN 3 satu atap Sayung Sudirto SPd mengungkapkan, penggabungan SDN Tugu 2 dan SMPN 3 Sayung berdasarkan SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Demak Nomor 421.3/1363 tentang izin operasional SMPN 3 satu atap Sayung Kabupaten Demak 2007-2008.
Gedung baru dengan empat lokal (tiga ruang kelas dan satu ruang guru) itu didirikan dengan dana blockgrant, begitu pun biaya operasional tahun pertama. Hingga tahun ketiga ini, kata Sudirto, SMPN 3 satu atap Sayung berhasil menampung 230 murid yang dibagi dalam enam rombongan belajar (rombel). Yakni satu rombel kelas IX, tiga rombel kelas VIII serta dua rombel kelas VII. Sedangkan SDN Tugu 2 memiliki 266 murid, yang terbagi menjadi delapan rombel dengan kelas II dan IV paralel.
Mengenai operasional SD disebutkan tidak banyak masalah. Terlebih tahun 2009 ini SDN Tugu 2 mendapatkan bantuan DAK bidang pendidikan. "Yang sangat memberatkan adalah minimnya dukungan dana operasional untuk SMP. Sementara kami memiliki pengeluaran rutin untuk 11 guru pengampu, dua karyawan TU serta satu penjaga sekolah yang semuanya berstatus wiyata bakti," kata Sudirto, kemarin.
Berdasarkan SK pendiriannya, SMPN 3 satu atap Sayung itu berstatus negeri. Dan sepengetahuan masyarakat terkait biaya ujian, baik semesteran maupun ujian nasional mestinya juga digratiskan.
Kades Tugu Hartono menyambut baik upaya pemerintah mendirikan SMPN 3 satu atap Sayung satu lingkungan dengan SDN Tugu 2. Pihaknya berharap upaya meningkatkan kualitas SDM Desa Tugu tidak setengah-setengah. “Bentuk antusias kami telah terwujud dengan adanya swadaya masyarakat dan orangtua murid dalam peninggian halaman sekolah yang rutin tergenang rob pada bulan-bulan tertentu," tandas dia.
Hal ini membuat banyak pihak yang merasa prihatin, karena setahu mereka(masyarakat) sekolah yang dikatakan negeri biasanya semua yang dibutuhkan sudah tersedia dan bisa dikatakan memadai, akan tetapi kenyataannya jauh dari memadai, buktinya dengan kapasitas jumlah anak 230 hanya terdapat 2 ruang kelas dengan asumsi 1 ruang kelas hanya bisa dihuni 1 rombel belajar yang kurang lebihnya terdapat 40 siswa, jadi kesimpulannya dengan jumlah 6 rombel hanya mempunyai 2 ruang kelas dikatakan belum memadai, imbuh pak agus selaku wakil kepala sekolah
melihat fenomena diatas kiranya semua pihak supaya ikut prihatin, karena mereka adalah tunas bangsa, generasi penerus bangsa, apalagi dalam masa pembangunannya dibutuhkan tenaga dan biaya yang exstra dan bahkan dalam 2 tahun ini sudah bisa menunjukkan prestasi yang cukup lumayan, menjadi peraih juara 3 cerdas-cermat tingkat smp se kecamatan, juga peraih juara 2 jambore tingkat kecamatan serta peraih juara 1 cerdas-cermat yang baru-baru ini diraihnya, melihat prestasi mereka cukup sayang apabila pihak yang terkait tidak memperhatikan, tandas salah satu anggota masyarakat setempat.

!>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar